Mulailah Dengan Basmallah
Siang itu, matahari bersinar tak terlalu terik. Namun keringat tampaknya tak henti membasahi dahiku. Aku hampir tak percaya melihat pemandangan di hadapanku. Tank top dengan perut terbuka, rambut berwarna merah terang khas punk jalanan, dan celana pendek yang hanya menutup kurang dari seperempat kaki jenjangnya.
“Kak Vanie hebat bisa kuliah di luar negeri dan bertahan dengan jilbabnya meski berada di negeri yang sangat menjunjung tinggi kebebasan, Prancis.” Itu gumamanku sekitar 3 tahun yang lalu saat Kak Vanie, tetanggaku yang belajar di Sorbonne pulang untuk merayakan lebaran di tanah air.
Kak vanie adalah seorang yang beruntung. Ia terlahir di keluarga yang kaya. Prestasinya pun segudang baik akademis maupun non akademis. Itulah yang membawanya pada beasisiwa uni eropa di Sorbonne. Ia pun sangat idealis. Keluarganya telah mencoba membujuknya melepaskan jilbab yang selalu ia kenakan. Namun, apa yang ada di hadapan ku kali ini tak seperti kak Vanie yang aku kenal. Jelas bukan Kak Vanie yang selalu bisa diajak share olehku.
“kenapa Haura? Kok bengong sih? Makanannya abisin dong! gak usah malu-malu.” Kata kak Vanie membuyarkan lamunanku. Makanan traktiran kak Vanie di hadapnku memang belum tersentuh sama sekali. Aku terlalu sibuk dengan lamunanku tentang kak Vanie.
Aku pun hanya tersenyum tipis dan kemudian melahap makanan mewah yang jarang kudapatkan. Mahsiswi tingkat akhir yang hanya bekerja sambilan sebagai karyawan di sebuah toko buku yang juga harus konsisten mengirim uang ke kampung halaman memang tak mungkin bisa mendapatkan makanan semewah ini dari pendapatannya sendiri. Jadi, nikmatilah!
“ hmmm, pasti tadi kamu sedang memikirkan penampilanku. Iya kan Haura?”
Tenggorokan ku hampir tesedak, aku pun segera menagambil air putih. “Enggak kok kak bukan ngelamunin kakak, aku Cuma lagi mikirin skripsi ku yang belum rampung-rampung.” Kataku sambil tersenyum tipis.
“ kamu bukan tipe orang yang pandai berbohong. Aku tahu seorang Haura tidak akan berleha-leha dalam menyelesaikan kewajibannya.” Raut wajah kak Vanie berubah serius.
“ jujur saja,” lanjutnya. “aku merasa senang dengan pilihanku Haura. Mungkin kau kaget. Aku pun pasti bereaksi seperti itu bila aku jadi kau.”
Aku hanya bisa diam membisu mengingat percakapanku dengan kak Vanie tadi siang. Dari ceritanya, ternyata awal mula kak Vanie berubah adalah dari beban belajar yang terlalu berat kemudian menyeretnya berlari ke nightclub dan pergaulan bebas a la eropa. Aku jadi bergidik ngeri. Sampai begitukah resiko belajar ke luar negeri? Khususnya negeri yang menjunjung tinggi sekulerisme. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tawaran beasiswa ke tempat yang sama persis dengan tempat kakVanie menuntut ilmu. Haruskah aku meniggalkan tawaran berharga itu? ataupun haruskah aku mengambil tawaran tersebut dengan mati-matian melawan beratnya resiko rusaknya ahlak dan aqidah ku?
Aku gelisah memikirkan hal tersebut. Padahal sidang skripsi saja belum tapi aku sudah pusing memikirkan kelanjutan studiku. Aaah…
3 bulan kemudian
Seusai wisuda, aku segera mengontak keluargaku setelah sebelumnya melakukan sujud panjang di mushalla kampus. Mereka senang sekali mendengar kelulusanku dengan hasil yang sangat memuaskan. Meski tak bisa hadir menyaksikan acara kelulusan si bungsu ini. Mereka mengusulkan untuk segera pulang ke kampung halaman. Namun, aku masih merasa berat meninggalkan ibu kota. Masih ada ganjalan di fikiranku. Beasiswa itu. aku masih sangat bingung
dengan pilihanku sendiri. Akupun belum berkonsultasi dengan orang tuaku. Terakhir aku membicarakann hal tersebut tiga bulan lau, mereka mendukungku sepenuh hati. Namun, aku masih mempermasalahkan keamanan aqidahku di sana. Bayang-bayang kontrasnya penampilan kak Vanie sebelum dan sesudah menuntut ilmu di sana membuatku agak gentar. Mungkin aku harus menenangkan diri dengan makan di warteg yang tak jauh dari tempat kost ku.
“apa kau yakin dengan pilihanmu Fat?”
“ Ya aku yakin, sangat yakin. Asal dengan tekad yang kuat disertai silaturrahmi yang tak terputus dengan antum semua, aku pasti bisa menebarkab barakah di tempat itu.”
“tapi kudengar, sudah banyak yang menyerah. Penduduk di daerah itu ahlaknya sudah jelek sekali. Apa kau yakin kau bisa bertahan?”
“insya Allah, dengan tekad yang kuat, bismillahirrahmanirrahim aku pasti bisa.”
Aku agak tertarik dengan percakapan dua ibu muda yang tampaknya juga berperan sebgai da’iyah yang tak lelah menebar barakah harakah dakwah. Sekaligus juga tersentak dengan tekad kuat ibu muda tersebut yang dimulai dengan basmalah. Ya, basmallah merupakan materi yang pertama ku dapat semenjak aku mengikuti pengajian seminggu sekali di rumah kakak seorang kenalanku. Sudah agak lama aku tak hadir di pengajian, aku hampir lupa materi-materi yang telah disampaikan. Mungkin ada baiknya jika aku megunjungi beliau.
“istikharahlah! Insya Allah kau akan mendapat jawaban terbaik dari Nya.” Begitu pesan beliau. Dari kunjungan ini pula aku baru saja mengetahuai bahwa kak Nadia lama tinggal di Rusia ketika menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi disana. Dan beliau masih berjilbab rapat, dan taat beragama. Beliau juga mengisahkan banyaknya muslimah yang istiqamah memegang teguh pendiriannya meski tinggal di negeri yang mayoritas non muslim.
Setelah istikharah selama tiga hari, akupun yakin pada pilihanku. Tak semua muslimah dapat dengan mudahnya tergoyahkan tipu daya kaum musyrikin. Jalan ini adalah jalan jihad, dan aku jelas tak boleh berpaling darinya.
“bismillahirrahmanirrahim… ya Allah saya bertekad akan melangkah dengan niat jihad di jalanmu. Demi bertambahnya cendekiawan muslim yang akan mengangkat derajat islam, aku akan berjuang. Iringi jalanku ya Rabb.” Batinku sambil menekan tuts tuts telepon gengamku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar