welcome

Sabtu, 03 Maret 2012

Tak ada yang menginginkan

Bebarapa hari lagi iedul fitri. Waktu yang tepat untuk membereskan seisi rumah. Aku, bunda, beserta adik terkecilku sibuk seharian. Sedangkan adik tertuaku, Karima pasti sedang bersenang-senang dengan ayah karena setiap tahun selalu ada pembantu khusus lebaran. Sedangkan bunda tak pernah mau membayar untuk hal itu. Naluri beliau sebagai seorang ibu tak ingin membiasakan anak-anaknya tumbuh manja. Selain itu, tidak tiap tahun aku beres-beres seperti ini. Tahun kemarin, aku yang giliran berlebaran bersama ayah. Tahun depan pun bukan Karima yang akan berada di sana,tapi adik kecil ku, Sahla. He… lucu ya acara lebaran keluargaku? Ada jadwal giliran segala. Tapi kawan tahukah engkau betapa menyakitkannya punya orangtua yang berpisah satu sama lain.

Tiba-tiba di tengah kegiatanku mengepel lantai kamar bunda, aku terhenyak saat menemukan foto ayah yang tersimpan dengan baik di bantal bunda. Beserta foto itu, terdapat pula secarik kertas lusuh yang bertuliskan lirik nasyid Edcoustic, “duhai pendampingku”.

Meski kau terbiasa hidup tanpa perih

Namun kau ikhlas hidup bersahaja namun bahagia

Aku heran sekaligus kaget. Bunda masih menyimpan foto ayah, juga secarik kertas lusuh yang tentunya itu adalah pemberian ayah. “Bukankah itu berarti, bunda masih mencintai ayah? Lalu, apa yang menyebabkan mereka bercerai? Sampai saat ini, ayah dan bunda belum pernah saling mengunjungi. Tapi mereka pun tak berniat mencari pasangan baru. Apa artinya ini? Apa yang menyebabkan aku harus mengalami keadaan saat aku tak memiliki ayah ataupun saat aku tak memiliki ibu?” sejuta pertanyaan terbesit di benakku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan.

Sore harinya, setelah semua pekerjaan rumah selesai, aku mendatangi bunda di kamarnya.

“ada apa teteh? Kok tumben mau bicara empat mata sama bunda? Emangnya teteh punya masalah ya?” kata beliau membelai rambutku lembut begitu aku memasuki kamar beliau.

Aku hanya menggelang pelan dan kemudian menatap bunda agak lama. Bunda balas menatapku lembut.

“bunda, bunda masih sayang sama ayah kan?” tanyaku dengan suara serak.”bunda masih mencintai ayah kan?”

Mimik wajah bunda berubah. Dan kemudian balik bertanya.”teteh mau berlebaran sama ayah lagi ya?”

“enggak kok bun. Aku… aku cuma mau tanya bunda masih sayang sama ayah kan?”

“ken..kenapa tiba-tiba kamu bertanya hal seperti itu sayang?”

“bun, aku sudah dewasa, aku sudah SMA. Aku sudah bisa menyimpulkan cukup dengan melihat foto ayah dan kertas lusuh pemberian ayah masih tersimpan rapi di balik bantal bunda.”

Ku menatap bunda yang hanya menunduk. Aku tahu, bunda pasti sangat merindukan ayah. Lantas keinginan siapa tragedi yang terjadi 10 tahun silam ini? Hanya hal itu yang ingin aku ketahui.

“sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk dibahas. Bila hanya untuk mengetahui siapa yang menginginkan.” Bunda seakan dapat membaca fikiranku.

“tapi bun, bila aku mengetahui titik permaslahannya, mungkin aku bisa membantu bunda dan ayah bersatu lagi. Aku gak mau ayah dan bunda pisah lagi.”

Bunda tak bergeming. Itu artinya, bunda memang tak mau memberitahuku sama sekali. Aku pun beranjak dari kamar bunda, meninggalkan bunda yang menangis dalam kesunyian.

Sebenarnya, aku tak enak hati meninggalkan bunda setelah aku membuat beliau sedih. Tapi, ku fikir mungkin lebih baik aku membiarkan bunda sendiri. Sedangkan aku masih memikirkan sebab ayah dan bunda berpisah.

Seingatku 5 tahun bersama, ayah dan bunda tak pernah bertengkar. Meski bunda yang notebene nya berasal dari keluarga kaya terpaksa hidup sederhana bersama ayah yang yatim piatu, tapi kehidupan kami saat itu baik-baik saja. Ayah dan bunda tak pernah sama sekali bertengkar. Malah mereka selalu terlihat mesra. Ayah dan bunda sama-sama lulusan dari kedokteran dan saat itu sama-sama masih menjadi honorer di sebuah rumah sakit. Jadi kurasa tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang masa depan ekonomi keluarga kami. Malah hal itu bisa menjadi harapan besar karena ayah dapat izin praktek di ulang tahunku yang keempat, berarti setahun sebelum perceraian itu terjadi. Jadi tak mungkin perceraian itu terjadi karena masalah ekonomi.

Orang tua bunda, atau kakek nenekku juga tak menentang pernikahan bunda dan ayah. Malah mereka sayang sekali pada ayah meski ayah seorang yatim piatu. Mereka pasti bangga dapat menantu seperti ayah yang pekerja keras sehingga bisa lulus dengan baik di fakultas kedokteran.

Haa..h aku capek terus-terusan memikirkan hal itu. lebih baik aku tidur sejenak melepas lelah. Tak ada gunanya aku menyesali keputusan ayah dan bunda untuk berpisah. Semuanya pasti ada hikmahnya.

Hari demi hari berlalu, lambat laun aku bisa melupakan soal ayah dan bunda. Tak terasa sehari lagi lebaran tiba, pasar-pasar mulai dipadati pembeli sejak pagi. Dan sampai siang ini pun masih saja terlihat pembeli berdesak-desakan memburu keperluan untuk hari raya. Saking antrenya, masih untung aku bisa mendapatkan potong daging ayam terakhir di pedagang langgananku. Seusai belanja di tengah hari terik ini, bunda langsung merebah kecapean. Aku masih harus memasukkan sepeda ke garasi.

Ada sesuatu yang menarik perhatianku saat aku memeasukkan sepeda ke garasi yang merangkap dengan gudang. Sebuah kardus penuh dengan kertas warna-warni! “Wahh aku bisa membuat berbagai kartu lebaran yang lucu-lucu nih!” Batinku.

Dengan semangat, ku bongkar isi kardus tersebut. Mataku berbinar saat melihat melimpahnya kertas-kertas warna-warni dan lucu tersebut. Namun, di dasar kardus tersebut, terdapat sebuah buku tebal berwarna pink. Dengan penasaran ku ambil buku tersebut, kubaca. Dari halaman pertama, aku langsung mengerti bahwa buku tersebut merupakan diary bunda. Awalnya, aku tak mau meneruskan bacaanku. karena itu berarti, aku tak menghargai hak privasi orang lain. Namun karena aku ingat rasa penasaranku akan kejadian detail perceraian bunda dan ayah, aku terus membaca buku tersebut. malah, agar lebih santai dan tidak mencurigakan, aku bawa buku tersebut dan kubaca di kamarku.

20 September, 1998

Hari ini, ulang tahun pernikahan ku dengan mas Azka. Pada awalnya ku kira mas Azka tak ingat, karena beberapa hari terakhir, termasuk hari itu, ia pulang lebih awal dariku. Dan saat ku tiba di rumah sederhana ku, aku tak mendapatinya. Hanya ada dua puteri ku, Karima dan Fauziyya bersama pengasuh mereka yang juga pengasuhku saat kecil. Dan saat aku menidurkan kedua bidadariku yang masih imut-imut itu, ia belum juga pulang. Di saat jam di ruang tamu berdenting dua belas kali, aku memutuskan untuk tidur. Namun, baru saja 5 menit aku memejamkan mata, ada seseorang yang berbisik lembut di telingaku. Aku berusaha membuka mataku yang sudah 5 watt. Ternyata, mas Azka sudah ada di hadapanku menutup mataku dan menggiringku ke tempat yang saat mataku terbuka, aku berdecak kagum. Itu adalah tempat terromantis yang pernah kulihat. Lilin-lilin menyala membentuk sebuah jalan yang menuju meja yang telah dirias sedemikian rupa. Ahh sungguh diary, aku tak bisa menggambarkan bagaimana kekaguman ku saat melihat pemandangan ini, dan yang paling hebat, ia bisa menyiapkan semua dengan waktu lima menit.

Aku mulai bosan membaca bagian ini. Semuanya hanya menggambarkan betapa indahnya malam itu, betapa romantisnya ayah. Tak ada petunjuk mengenai perceraian ayah dan bunda. Lagipula, ini masih tahun 1998, tiga tahun sebelum semuanya terjadi.

Saat aku hendak membuka halaman selanjutnya, ada sesuatu yang menarik perhatianku.

Ffuh…sayangnya aku ngantuk sekali. Aku tidak biasa tidur lewat tengah malam. Ibuku selalu menyuruhku tidur jam 10 tepat. Bahkan sampai aku menjadi mahasiswi. Bisa dibilang, ibu sangat protektif terhadapku. Dan diary tahukah kamu? Saat aku merajuk kepada mas Azka betapa aku sangat-sangat mengantuk, dengan menyebalkannya, ia malah mengejekku sebagai anak mami. Aku langsung cemberut. Wajar khan ibu sangat protektif? Aku ini anak tunggal. Tapi, yang membuatku kagum, mas Azka bisa membuatku tersenyum kembali dengan sikap humorisnya. Bahkan membuat rasa kantukku hilang.

Apa mungkin, ini yang menyebabkan… ahh tidak! Tidak mungkin. Tidak masuk akal bila hanya karena bunda manja. Bunda tidak manja apalagi setelah menikah dengan ayah. Ia bisa menyesuaikan diri dengan baik.

Akupun mencari halaman yang tercantum tahun 2001, tahun yang sama saat tragedi itu terjadi.

31 Juli, 2001

Mengapa mama protektif kepada ku? Ku kira semua hanya karena aku anak tunggal. Namun ternyata mama pernah kehilangan seorang anak sebelum melahirkan ku. Kakak ku. Mama bercerita, saat itu kakak ku berusia 3 tahun. Mama kehilangan kakak saat ia ada di bandara. Karena ingin ke kamar kecil, mama menitipkan kakak kepada seorang ibu yang saat itu duduk di sebelah mama. Namun apa yang terjadi, si ibu tersebut menghilang. Mama sudah menghubungi pihak kepolisian. Namun hasilnya selalu nol. Mereka hanya bisa menduga pelaku penculikan tersebut adalah buronan yang mereka cari-cari 3 tahun terakhir. Tapi pencarian mereka selalu nihil hingga akhirnya mama putus asa.

Hingga kini, mama tak bisa melupakan kehilangan kakakku karena keteledoran beliau. Tapi mama berkata, ia sudah menemukan keberadaan kakakku. Aku ingin tahu dimana keberadaannya dan bagaimana rupa kakaku. Tapi, mama malah memotong ceritanya dan menyuruhku pulang. Aku bingung, kenapa mama tidak mau memberitahuku di mana keberadaan kakakku. Memngnya salah jika seorang adik ingin tahu siapa kakaknya?

Keningku berkerut ketika membaca halaman ini. Aku tidak tahu kalau aku punya om atau tante. Jadi, apa nenek memang belum memberitahu bunda sampai saat ini? Entahlah aku tak mau memikirkan hal itu. aku harus konsentrasi mencari catatan saat tragedi itu terjadi. Lagipula catatan ini tak ada hubungannya dengan tragedi yang manimpaku.

21 oktober, 2001

Hujan pertama…

Alam seakan ikut menangis saat semuanya terjadi. Misteri 3 bulan lalu yang kutunggu-tunggu jawabannya, kini terungkap. Saat aku harus berbicara empat mata dengan mas Azka. Namun, semua yang kudengar tadi sore bagaikan cambuk bagiku. Saat itu, rasanya lebih baik petir menyambarku saja dibanding aku harus mendengar kenyataan ini. Kenyataan yang membuat dadaku rasanya seperti dicabik-cabik oleh perasaanku sendiri. Aku tak mengerti mengapa semua terjadi kepadaku, bukan orang lain.

Catatannya terhenti. Tapi, catatan tersebut terhenti bukan karena memng di hentikan. Melanikan karena kertas nya robek. Ku simpulkan ini adalah catatan saat kata TALAQ pertamakali di ucapkan. Rasanya pipiku mulai basah dengan air mata. Terbayang olehku saat ayah mengantarkan bunda yang saat itu mengandung Sahla, beserta aku dan Karima ke rumah nenekku. Sejak saat itu, kami tak pernah kembali lagi ke rumah sederhana kami.

Halaman selanjutnya… tanpa tanggal. Tak pernah.

Ingin rasanya, aku marah kepada mama. Mengapa mama tidak sejak dulu memberitahuku soal mas Azka? Atau bahkan menolaknya sebelum tawa riang di hari yang barokah itu berakhir dengan linangan airmata. Tapi, apalah dayaku. Mama memeng baru mengetahui yang sebenarnya sekitar tiga bulan yang lalu. Saat mas Azka bermain bersama anak-anak di pantai. Mama baru menyadari, kalau mas Azka sudah menjadi MAHRAM ku sebelum terjalin ikatan pernikahan. Saat beliau melihat tanda lahir di pundak mas Azka. Tepat di tempat yang dulu, 30 tahun silam selalu mama cubit agar KAKAKKU mau pergi tidur dan berhenti untuk mau menetek pada mama. Mungkin ini sangat dramatis, Imajinatif, hanya ada dalam dongeng picisan. Aku pun awalnya beranggapan seperti itu. sebelum akhirnya semua tragedi ini terjadi.

Halaman selanjutnya

Aku masih tak bisa membedakan rasa sayangku terhadap mas Azka. Apakah sebagai seorang adik atau seorang istri? Yang jelas aku menyayanginya. Tapi aku terkadang khawatir anakku yang ketiga ini lahir dengan cacat. Ada mitos yang mengatakan bahwa anak yang terlahir dari perkawinan sedarah akan terlahir cacat. Tapi mungkin bila melihat dua anakku sebelumnya yang terlahir sempurna dan cerdas, aku tak perlu terlalu khawatir.

Oh, itu sebabnya bunda sering ke rumah sakit, memeriksakan kandungannya.

Air mataku tak henti mengalir bila mengenang kejadian setahun silam. Kak Azka tadi membelai rambutku lembut saat menghadiri pernikahan sepupu ku, sepupu kami. Ia bertanya, apakah aku tak mau menikah lagi. Aku jelas tak mau. Meski saat ini aku tak bisa bersatu dengannya, aku berharap di surga nanti, Allah bisa menyatukan kami. Di tempat di mana khamr pun di halalkan.

Tangisku semakin deras. Yaa, bunda betul. Terlalu menyakitkan untuk dibahas bila sekedar ingin tahu siapa yang menginginkan. Tak ada yang menginginkan tragedi ini terjadi. Semua telah tertulis di lauh al mahfudz sana.

“ Ziyya! Bangun sayang, sudah setengah lima kamu sud…” tiba- tiba bunda masuk.

Aku tak menjawab. Pipiku masih basah oleh air mata. Sekonyong-konyong, ketika bunda melihat buku yang kupegang, ia langsung memelukku. Beliau pun menangis, sambil memelukku. Di sela tangisannya, beliau berkata. “Sayang, jangan salahkan siapa-siapa. Tak ada yang salah pada tragedi ini. Allah pun tidak salah sayang, semua telah menjadi ketetapannya. Sekarang, kau mengerti khan kenapa hal ini terlalu menyakitkan untuk di bahas apabila hanya ingin mengetahui siapa yang menginginkan. Tak ada yang menginginkan semua ini terjadi sayang.”

Ya, memang betul. Semua ini terlalu menyakitkan untuk di bahas bila hanya untuk mengetahui siapa yang menginginkan. Karena tak ada yang menginginkan semua ini terjadi. Tak ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar